jump to navigation

Ten Thousand Hours Rule (Peraturan 10.000 Jam) 4 Juni 2010

Posted by menatamimpi in Uncategorized.
trackback

Landasan Ilmiah. Pada tahun 1993, tiga orang akar bernama K. Anders Ericsson, Ralf Th. Krampe, dan Clemens Tesch Romer melakukan penelitian di Berlin Academy of Music. Mereka berusaha menemukan jawaba, bagaiaman seseorang bisa menjadi pakar dalam bidangnya atau dengan kata lain menjadi seorang expert.

Dibantu seorang profesor, mereka mengelompokkan mahasiswa tingkat akhir ke dalam tiga kategori: 1) calon guru musik, 2) calon pemusik profesional, 3) calon maestro musik dunia. Pertanyaan mereka adalah: Semua mahasiswa yang diterima dan belajar di akademi tersebut, pastilah orang-orang berbakat. Lalu kenapa akhirnya ‘nasib’ mereka berbeda? Ada yang sekedar menjadi musisi biasa, dan ada yang bisa menjadi expert.

Untuk memperkuat hasilnya, mereka ulang penelitiannya dengan model pengkategorian yang sama, namun menggunakan sample profesi yang beragam, mulai dari musisi, pemain catur, sampai dengan olahragawan. Akhirnya, mereka berhasil membuat kesimpulan luar biasa.

Hasil penelitian. Ternyata yang membedakan ketiga kategori itu adalah berapa lama waktu yang telah mereka alokasikan untuk berlatih menjadi yang terbaik dalam profesi pilihannya. Mereka yang berhasil menjadi expert telah mengalokasikan waktu untuk berlatih selama 10.000 jam. Kesimpulan itu, kini dikenal sebagai 10.000 hours rule (peraturan 10.000 jam).

Banyaknya waktu yang diinvestasikan untuk berlatih, dan cara berlatihnya, akan sangat menentukan hasilnya. Apakah anda bisa menjadi yang terbaik, atau anda hanya menjadi orang biasa. Yakinlah, tidak ada jalan pintas untuk menjadi expert.

The Beatles. Peraturan 10.000 jam dipopulerkan Malcolm Gladwell dalam buku The Outliers. Berapa lama 10.000 jam itu?jika kita mengalokasikan waktu 3 jam sehari untuk berlatih, berarti dibutuhkan 10 tahun bagi kita untuk bisa menjadi seorang expert. Dalam bukunya itu, Gladwell mengulas The Beatles, band populer asal Inggris sebagai contoh sederhana yang membuktikan ‘kebenaran’ peraturan 10.000 jam.

The Beatles didirikan tahun 1957, ketika Paul Mc Cartney bertemu John Lenon. Mereka kemudian pindah ke US tahun 1963, yang kemudian terkenal dengan istilah The British Invasion. Tahun 1967, the Beatless melahirkan sebuah album yang menjadikan mereka sebagai dewa musik. Album itulah yang membuat mereka diakui sebagai orang-orang terbaik dibidang musik, atau dalam istilah kita, telah menjadi expert dunia. Ternyata, The Beatless butuh 10 tahun untuk bisa sukses.

Bill Gates. Contoh kedua adalah Bill Gates, yang mulai menekuni programing komputer di tahun 1968 ketika dia berumur 13 tahun. Pada usia 20 tahun, dia mendirikan Microsof yang tidak lama kemudian dipercaya sebuah sebuah perusahaan raksasa, untuk membuat sistem operasi IBM PC sebagai produk komputernya yang terbaru saat itu. Tentu saja, IBM tidak akan mempercayakan produk andalannya pada sembarang orang. Mereka pasti akan mempercayakan pada seseorang yang dianggap expert. Berapa lama Bill Gates berusaha menjadi seorang expert? Ternyata hanya 7 tahun.

Kenapa tidak 10 tahun? Karena Bill Gates menginvestasikan waktu untuk berlatih lebih dari 3 jam sehari. Di dalam autobiografinya ditulis, dia biasa berlatih 7-8 jam sehari, bahkan tidur di lab komputer. Jadi wajar ketika usianya baru 20 tahun, dia sudah mengantungi lebih dari 10.000 jam.

Deliberate Practice. Perlu dipahami, 10.000 jam yang dimaksud pada teori ini, bukan jam terbang seseorang dalam melakukan pekerjaan tertentu. Melainkan waktu yang diperlukan seseorang berlatih secara terus menerus dan disengaja, untuk meningkatkan keterampilannya. Lebih tepat disebut, deliberate practise seperti dikatakn Anders Ericsson.

Kasus. Dalam salah satu pelatihan eksekutif perusahaan, seorang peserta berkata pada saya, “Pak, kalau 10.000 jam adalah patokah untuk dianggap sebagai expert, berarti sejak 5 tahun lalu saya sudah jadi expert dong.”  “Oh ya? Tanya saya. “Lha iya, wong saya ini sudah melakukan pekerjaan saya selama lebih dari 15 tahun!” katanya serius. Saya jadi tersenyum. Dia salam memahami peraturan 10.000 jam.

Padahal 10.000 jam itu adalah waktu yang dialokasikan untuk berlatih secara khusus atau disebut dengan delibrate practice. Bukan sekedar jam terbang seseorang dalam melakukan pekerjaan tertentu.

Anders Ericsson. Dalam buku the Cambridge Handbook of Expertise and Expert Performance, Anders Ericsson menegaskan bahwa, “peningkatan keahlian seorang expert tidak terjadi secara otomatis sebagai konsekuensi dari pengalaman… tantangan yang paling prinsipil untuk meraih tingkat keahlian seorang expert adalah dengan menerapkan perubahan yang spesifik dan stabil yang mengakibatkan keahliannya secara bertahap meningkat.”

Jadi pada kasus peserta pelatihan tadi, bisa jadi latihan untuk pekerjaannya hanya berlangsung pada tahun pertama ia bekerja. Setelah itu hasil latihannya dia ulang terus menerus selama 15 tahun. Berarti dia belum mengikuti peraturan 10.000 jam deliberate practice, sehingga jauh dari layak jika menganggap dirinya sudah expert. Jadi, peraturan 10.000 jam menjadi expert baru berlaku, jika selama 10.000 jam tersebut anda terus menerus melakukan deliberate practice.

Ciri-ciri sebuah aktivitas deliberate practice. Ciri-ciri sebuah aktivitas deliberate practice menurut Anders Ericsson adalah sebagai berikut:

ü      Didesain khusus untuk meningkatkan performa atau keterampilan tertentu

ü      Memiliki tujuan spesifik dan berjenjang

ü      Melampui kemampuan yang dimiliki saat itu

ü      Dilakukan dengan gairah dan semangat yang besar

ü      Mendapatkan feedback secara berkesinambungan dari seseorang yang dianggap ahli dalam bidang tersebut

Mereka yang berhasil menjadi expert dalam penelitian Anders Ericsson, ternyata memang telah mengalokasikan waktu 10.000 jam deliberate practice. Bukan sekedar jam terbang menjalankan profesinya.

Tiger woods sang pegolf legendaris. Tiger woods tidak tiba-tiba menjadi pegolf legendaris. Dia melakukan deliberate practice. Sudah banyak buku dan artikel yang menceritakan bagaimana Woods berlatih setiap hari dengan jadwal yang tersusun rapi. Ia berlatih di bawah pengawasan seorang pelatih golf profesional sejak usia 4 tahun. Setiap kali Woods sudah merasa menguasai suatu teknik tertentu, maka ia akan memaksa dirinya belajar menguasai teknik yang lebih sulit lagi. Woods bahkan secara sengaja menjatuhkan bola golfnya ke bunker pasir, supaya dia bisa menghabiskan waktu berhari-hari untuk menyempurnakan cara memukul bolanya dari bunker tersebut.

Delibrate Practice Bayi Hingga Bisa Berjalan. Sebenarnya manusia tumbuh dan berkembang secara alami melalui proses delibrate practice. Ketika masih bayi, kita ingin bisa berjalan, sebuah ketrampilan atau kemampuan yang saat itu kita belum miliki. Maka kita membuat tujuan specifik dan berjenjang. Kita tidak langsung mencoba berjalan, melainkan berusaha secara berjenjang dengan target yang ditetapkan secara jelas dan setiap tahapan. Kita memulainya dengan belajar merangkak. Begitu mahir merangkak, baru berdiri meniti meja, kemudian berjalan dipapah orang dewasa. Barulah kemudian kita mencoba berjalan sendiri.

Setiap tahapan tadi kita lakukan dengan konsisten, dan dengan gairah yang besar serta semangat pantang menyerah. Pasti kita sempat terjatuh beberapa kali, tapi kegagalan itu tidak membuat kita berhenti belajar. Pada setiap proses tersebut, kita mendapatkan arahan dan feedback dari seorang yang ahli yaitu orang tua kita. Itulah deliberate practice, sebuah proses latihan yang sudah secara alami terprogram dalam diri kita sebagai manusia.

Iklan

Komentar»

1. menatamimpi - 4 Juni 2010

TIGER WOODS, LEGENDA DARI PADANG GOLF
Banyak rekor kejuaraan baru diciptakannya. Tapi Tiger Woods hanya punya satu obsesi, “Saya tidak ingin menjadi pe-golf berkulit hitam terbaik. Saya ingin menjadi pe-golf terbaik.”
Sesungguhnya, seperempat abad silam, “Saya sudah menduganya. Saya sudah lama tahu akan hal itu,” kata Earl Woods. Ia pun mengenang saat pertama kali mendudukkan bayinya di kursi tinggi. Tak hanya menonton, bayi itu menirukan ayunannya memukul bola golf ke dalam jaring di garasi.
Momen bersejarah yang menunjukkan ketertarikannya pada permainan golf terjadi saat Tiger baru berusia 6 bulan. Di usia 10 bulan bayi kelahiran Long Beach, Kalifornia, 30 Desember 1975, itu belajar mengayunkan club yang dipotong pendek. Lucunya, saat itu ia mengayun tongkat justru dengan tangan kiri.
Buah seperti pohon
Diakui, prestasi dunia Tiger tidak bisa lepas dari peran ayahnya, Earl Woods. Bukan tanpa alasan Earl memperkenalkan golf pada Eldrick “Tiger” Woods. Earl selalu merasa terlambat memulai bermain golf – yakni pada usia 40-an, beberapa bulan menjelang kelahiran Tiger. Meski kemudian menjadi pemain golf yang baik, ia merasa kehilangan kesempatan untuk menjadi atlet golf profesional.
“Saya dari keluarga kulit hitam, sedangkan golf dimainkan di country club – habis sudah,” ujarnya. Maka, “Saya bertekad akan memberikan kesempatan bermain golf di usia sangat dini pada anak saya.”
Ia melihat, selama ini di AS anak kulit hitam tumbuh besar bersama basket, sepak bola, atau baseball sejak mulai bisa berjalan. Lalu permainan itu pun menjadi bagian hidup mereka.
“Ini berbeda dengan Tiger. Saya ingin memperkenalkan suatu permainan untuk seumur hidupnya.” Sejak usia 10 bulan itulah, sang club pendek jadi sahabat dan selalu dibawa ke mana pun Tiger pergi.
Seaneh proses perkenalannya dengan dunia golf, demikian pula nama “Tiger”-nya. Semua bermula saat Earl, kini pensiunan letkol Baret Hijau AS, bertugas dalam Perang Vietnam. Dalam peperangan nyawanya beberapa kali diselamatkan oleh Nguyen “Tiger” Phong, salah seorang teman perangnya dari Vietnam Selatan.
Earl berharap, suatu ketika teman lamanya itu akan mendengar nama Tiger plus Woods, dan segera tahu siapa pemiliknya.
Tak berhenti di situ, di Bangkok, Thailand, pula Earl bersua Kultida. Tahun 1969 mereka menikah. Baru lima tahun kemudian mereka mendapatkan anak “macan” Tiger Woods, melengkapi dua anak laki-laki dan satu anak perempuan dari perkawinan pertama Earl.
Memang anak “macan”
Beruntunglah Tiger yang mewarisi kemampuan atletik ayahnya, mantan catcher baseball dan keturunan Afrika-Amerika pertama yang bermain di Kansas State University.
Ini terbukti saat di usia 2 tahun ia melakukan kontes putting melawan Bob Hope, aktor profesional yang mencintai golf, dalam “Mike Douglas Show”. Hasilnya, ia menang! Sungguh keajaiban.
Sejak itu ia dan ayahnya menjadi selebriti. Di usia belum lagi 5 tahun ia tampil dalam “That’s Incredible”. Beberapa saat kemudian ia muncul dalam Golf Digest. Di masa itu tanda tangannya sudah mulai dikejar. Lucunya, karena belum bisa menulis, ia mencoretkan begitu saja namanya.
Itu sah-sah saja menimpanya, karena di usia 3 tahun, Tiger sudah mencetak skor 48 untuk 9 hole (umumnya 36) di US Navy Golf Course. Dilanjutkan dengan turnamen pertamanya di usia 4 tahun.
Namanya kian melambung tinggi.
Pada usia 11 tahun Tiger menjadi yang tak terkalahkan dalam lebih dari 30 turnamen di Kalifornia Selatan. Untungnya, prestasi itu tidak menghambat perjalanan akademisnya. Di kelas 7 (setara SLTP), Tiger meraih IP 3,86. Ini menunjukkan Tiger bukan hanya berbakat di bidang olahraga, tapi juga cerdas di sekolah.
Ia memang pelajar yang tekun, “Saya tidak pernah memerintahkan untuk berlatih, juga tak pernah menyuruhnya belajar. Ia sudah melakukannya sendiri,” aku Earl.
Namun, sejalan dengan angan-angannya, Earl terus berjuang agar Tiger menjadi pemain terbaik. Setiap usai pertandingan, ia memberi tahu mana yang benar dan yang salah. Tiger mendengarkan dan merekamnya, sehingga bisa terus belajar sampai menjelang tidur.
Di usia 13 tahun, seorang dokter menghipnotis Tiger untuk membantunya berkonsentrasi dan mengalangi semua gangguan selama pelajaran atau pertandingan berlangsung. Artinya, itu termasuk perintah berisik ayahnya.
“Kadang saya kecewa karena kata-kata saya di lapangan tidak akan terdengar. Tapi, yah, saya tahu itu demi kebaikannya,” tutur Earl yang bagaimanapun tidak ingin Tiger kalah mental.
Kemampuan mengatasi gangguan dari siapa pun saat bertanding itu pun menjadi kelebihannya. “Aku tak berani mengganggu, bila Tiger sudah mau melakukan sesuatu, soal apa pun,” ujar ayahnya.
Di luar semua latihan itu, Tiger mengaku ia menjalani masa kanak-kanak yang normal.
“Saya melakukan semua hal sama seperti anak-anak lain. Belajar, jalan-jalan ke mal, kecanduan nonton program gulat, musik rap, dan The Simpsons di TV. Saya pernah punya masalah, tapi bisa segera mengatasinya. Saya sayang dan patuh pada orang tua. Bedanya cuma, setiap saat saya bisa memasukkan bola kecil ini ke dalam lubang dengan lebih mudah dibandingkan orang lain,” tuturnya.
Salah satu masalah besarnya adalah, kesulitan bicara di usia 6 tahun. Untuk itu ia harus mengikuti pelajaran khusus selama 2 tahun untuk memperbaiki ucapannya. Akibatnya, sampai kini ia kesulitan berbicara dalam bahasa asing – meski ia bisa membaca tulisan dalam bahasa Spanyol, dan memahami bahasa Thai.
Mengukir sejarah
Prestasinya datang susul-menyusul. Di usia 8 tahun, ia memenangkan kelompok Ten-and-under dari Junior World Golf Championship. Tujuh tahun kemudian ia pemain termuda yang memenangkan US Junior Amateur Championship, sekaligus juara yang pertama dari keturunan Afrika-Amerika.
“Saya mengatakan padanya, ‘Nak, kamu melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan para keturunan kulit hitam di AS, untuk selamanya kamu akan menjadi sejarah’,” tutur Earl bangga setelah kemenangan Tiger yang bersejarah itu.
Tiger menyambung dengan dua kali menyabet kemenangan. Alhasil dialah orang pertama yang tiga kali berturut-turut memenangkan Junior Amateur AS. Tiger yang tidak pernah diperhitungkan di setiap pertandingan, mulai membangun sebuah reputasi membanggakan.
Untuk kelompok umurnya dalam Junior World Golf Championship Tiger enam kali menang, jauh lebih banyak ketimbang catatan sejarah para pegolf yunior. Ia bermain dengan pemain hebat seperti Jack Nicklaus, Greg Norman, dan Sam Snead.
Tahun 1990, saat Tiger baru 14 tahun, ia bermain dalam turnamen di Insurance Golf Classic, untuk amatir dan profesional di Forth Worth, Texas. Ia mengalahkan 18 dari 21 peserta profesional.
Apa komentar salah satu profesional setelah turnamen? “Saya ingin dapat bermain seperti itu di usia 14. Yah, paling tidak mestinya aku sudah bisa bermain seperti itu di usia 27.”
Pro atau amatir
Tiger mencicipi kesempatan hebat saat di Western High School. Tahun 1992 ia pertama kali bermain di turnamen Professional Golfers’ Association (PGA), Nissan Los Angeles Open. Ia salah satu pemain termuda yang pernah berpartisipasi di event PGA. Meski gagal memenuhi kualifisikasi, ia tetap memberi kesan mendalam pada para pemain pro yang lebih tua.
US Amateur Golf Championship adalah turnamen golf tertua di AS. Sebelum 1994 tak tercatat ada juara dari keturunan Afrika Amerika. Nama Tiger Woods-lah yang pertama kali muncul. Ia juga juara termuda karena baru berusia 18 tahun, setahun lebih muda dari pemain legendaris Jack Nicklaus saat memenangkan gelar yang sama.
Saat itu Tiger mengalahkan 156 pemain golf amatir pria terbaik di negara itu. Dengan kemenangan itu Tiger menjadi orang pertama yang merebut dua gelar sekaligus US Junior Amateur dan US Amateur. Malah selama dua tahun berikutnya ia berhasil mempertahankan gelar itu, sehingga tiga kali berturut-turut ia memegang juara US Amateur.
Di tahun 1994 pula Tiger dan timnya mengalahkan tim gabungan Inggris-Irlandia hingga berhasil meraih gelar World Amateur. Siapa sang bintang lapangan dalam turnamen yang diadakan di Prancis? Lagi-lagi, Tiger. Tak kaget bila koran Prancis menjulukinya “Tiger Le Terreur” alias Tiger sang Penteror.
Sudah barang tentu banyak college dan universitas ingin merekrutnya untuk bermain golf mewakili tempat kuliahnya. Akhirnya ia memutuskan “mendarat” di Stanford University.
Alasannya, “Di Stanford aku tidak menjadi selebriti,” demikian Tiger. “Untuk bisa diterima di sini, setiap orang adalah istimewa. Jadi semua bukan siapa-siapa. Itu sebabnya aku suka tempat ini.”
Tiger memenangkan dua turnamen untuk Stanford tahun 1995 dan menjadi juara kedua sebanyak tiga kali. Para pakar golf memasukkan namanya dalam tim All-American. Ia mengakhiri satu musim pertandingan sebagai pemain terbaik tingkat college.
Tiger berniat menuntaskan empat tahunnya di Stanford, tapi para pakar ragu, dan menduganya akan segera beralih ke profesional.
Tapi ibunya menyanggah. Menurut dia, turnamen pro dapat menunggu. “Untuk apa uang baginya?” Tida balik bertanya. “Jika ia menjadi pro, maka masa mudanya akan lenyap begitu saja.”
Tiger, seperti bisa diduga, setuju dengan sang ibu. “Uang tidak membuatku bahagia. Bila menolak masuk dunia pro, aku memang gagal di bidang yang memang ingin kucapai. Tapi kalau benar-benar masuk dunia pro, makin besar tekanan untuk harus bermain lebih baik. Aku ingin menyelesaikan belajar dulu di Stanford sambil meningkatkan diri.”
Memang benar. Tiger terus menorehkan rekor tahun 1995. Ia berhasil mempertahankan gelar juara Amatir AS. Kemenangan itu meloloskannya ikut bermain dalam turnamen Masters yang prestisius di Augusta (Georgia) National Golf Club tahun 1995.
Bintang ajaib itu terus bersinar tahun 1996. Ia mendominasi Stanford, dengan memenangkan 9 dari 13 turnamen, termasuk National Collegiate Athletic Association (NCAA). Tiger pun merebut award Fred Haskins dan Jack Nicklaus College Player of the Year. Ia memang pe-golf dunia paling dinamis dan berbakat.
Semangat kaizen
Dulu ia memilih Stanford, tapi? Memang, akhirnya, ia memutuskan terjun ke dunia golf profesional pada 26 Agustus 1996, dalam Las Vegas Invitational. Ia “diganjar” AS $ 297.000 dalam turnamen single itu.
Segera saja mengalir tawaran kontrak. Di antaranya ia menandatangani kontrak senilai AS $ 40 juta dengan Nike untuk kontrak selama 5 tahun, demikian pula beberapa perusahaan lain.
Penggemarnya mulai berdatangan untuk menonton.
Idola Tiger, Jack Nicklaus pun percaya bintang baru itu akan jadi favorit.
“Ia bisa disebut pe-golf sejati, dari antara semua pe-golf yang kuketahui. Tapi aku tak tahu apakah ia sudah siap jadi pemenang atau tidak. Kalau tidak, pasti ada yang salah,” kata Nicklaus.
Selama putaran Masters tahun 1997, tebakan Nicklaus tepat. Woods menjadi keturunan Afrika-Amerika pertama dan pemain termuda pemenang Masters dan kejuaraan utama lainnya.
Namun Tiger belum puas. Tahun 1996, tak lama setelah masuk dunia Pro, Tiger mengambil keputusan berani untuk mengubah style ayunannya.
Sejarah mencatat, usaha macam itu sering kali justru tidak menguntungkan. Beberapa pe-golf hebat – misalnya Ian Baker-Finch, Seve Ballesteros, Chip Beck – mengubah ayunan mereka. Hasilnya? Mereka tak pernah bisa kembali ke masa kejayaannya.
Namun, Tiger adalah Tiger. Ia mau melakukan apa pun, asalkan bisa melebihi prestasi Jack Nicklaus. Yang istimewa, Tiger tak kenal lelah untuk melakukan, yang disebut orang Jepang sebagai kaizen. Perbaikan terus-menerus.
Tak hanya Tiger, sahabatnya, yakni Michael Jordan, pun beretos serupa. Tak peduli seberapa tinggi pujian orang, Michael memberi wejangan pada Tiger, “Terus tingkatkan permainanmu.”
Seketika mendengar telepon Tiger setelah turnamen Masters 1997 tentang rencananya itu, coach-nya, Butch Harmon yakin sang anak didik bisa melakukannya.
Begitu pun Harmon tetap khawatir. Menurut pengalamannya, usaha itu tidak mungkin dicapai hanya dalam semalam. Perlu berbulan-bulan untuk mewujudkannya. Selama itu, mungkin saja prestasinya di berbagai turnamen memburuk, meski dalam jangka panjang ia yakin akan meningkat.
Mereka berdua tahu, kondisi buruk itu akan memancing komentar negatif, baik dari pengamat maupun pesaing yang iri dengan prestasi Tiger.
Teapi Tiger tidak peduli!
Ia dan Harmon merancang program Kaizen. Beratus-ratus kali mereka berlatih memukul bola, merekam, lalu memutar ulang rekaman ayunan pukulannya, mengulang-ulang kedua hal itu. Demikian seterusnya.
Tak sedikit pula waktu dihabiskannya untuk menonton rekaman video para pemain dunia dalam turnamen lama. Tiger memang bekerja keras untuk membangun kekuatan dan akurasi pukulan.
Apa sih yang dicarinya? Ia ingin menemukan ayunan yang sedemikian efisien, sehingga pukulannya bisa melampaui jarak yang lebih jauh. Namun tujuan utamanya, mencari cara untuk lebih baik dalam mengontrol bola.
Ternyata, memang tidak mudah.
Selama 19 bulan antara Juli 1997 – Februari 1999 Tiger hanya memenangkan satu turnamen. Ia pun frustrasi dan sering marah-marah. Semua jadi sasaran kemarahannya – permukaan lapangan golf, wartawan, tuntutan penggemarnya, dan sponsor.
Tiap kali kalah, ia selalu mengatakan, “Sebelum awal 1997 saya memang dianggap pe-golf yang lebih baik. Namun, menurut saya, menang tidak selalu dapat dijadikan barometer.”
Untunglah keadaan itu tak menyeretnya lebih jauh. Ia sadar mulai keluar dari lorong gelap penuh percobaan itu pada Mei 1999 saat bermain di Isleworth, Orlando, Florida. Saat itu ia sedang mempersiapkan diri untuk Byron Nelson Classic di dekat Dallas.
Tiba-tiba, pada salah satu ayunan ia merasakan – untuk pertama kalinya dalam setahun – melakukan sesuatu tepat seperti yang ingin dicapai. Gerakan itu begitu alamiah dan ringan, pukulannya pun mantap. Bola melambung tinggi dan lurus.

Kegembiraannya meledak. Ia mengulang, beberapa kali.
Kesabarannya mulai berbuah. Beberapa saat kemudian, bola-bola mulai melambung tinggi dan lurus. Ia mencoba melakukan dengan berbagai tongkat pemukul, hasilnya selalu semenakjubkan yang pertama.
Ia berlari, menelpon Harmon, “Kurasa, aku sudah kembali!” katanya singkat.
Dalam arahan Byron ia bertanding mantap dan percaya diri. Kemenangan pun tergenggam.
Ketekunannya membuahkan sejumlah kemenangan. Sepuluh dari 14 pertandingan selama tahun 1999, dan 8 kemenangan turnamen PGA di tahun itu, menjadi rekor menakjubkan setelah Johny Miller tahun 1974. Tiger memenangkan 6 turnamen PGA berturutan tahun 1999 dan awal tahun 2000. Nicklaus sendiri belum pernah menang lebih dari 7 kali dalam setahun dan tidak lebih dari 3 kali berturutan.
Dengan kemenangan di Inggris Terbuka Juli 2000, Tiger memantapkan karier Grand Slam dari 4 turnamen utama golf profesional, prestasi yang bisa diraih hanya oleh empat orang sebelumnya: Gene Sarazen, Ben Hogan, Gary Player, dan Jack Nicklaus. Tapi ia mencapainya di usia 24 tahun, 2 tahun lebih muda dari usia Nicklaus saat menang dulu.
Hari Minggu, kaus merah
Kini Tiger benar-benar telah menjadi pesaing yang sulit dihadapi para pe-golf profesional lain. Meski baginya, yang terutama selalu menjadi lebih baik,
“Aku, dan mungkin banyak orang lain, bermimpi menjadi juara Masters. Dan, aku berhasil,” katanya sambil menunjuk jaket hijau “simbol” juara Masters.
Tak hanya bagi dirinya, Tiger mengaku, “Kemenangan itu juga wujud impian beberapa orang.” Disebutnya nama Lee Elder, pegolf perintis keturunan Afrika Amerika yang bermain dalam turnamen Master 22 tahun sebelumnya, Charles Sifford, dan Ted Rhodes.
Yang pasti, kebahagiaan kemenangan itu selalu ia bagi dengan orang tua. Kemenangan itu menjadi klimaks emosional atas suatu misi yang mulai dibangun Tiger sejak belum lagi bisa berjalan.
Senyum lebar lepas khasnya saat mengenakan jaket hijau mengungkapkan hal yang sama saat ia memeluk erat ayahnya, orang pertama yang memperkenalkan golf. Matanya memejam erat – seakan menahan tumpahnya air mata. Lalu ia ganti memeluk Tida – ibunya, suatu ujud ikatan hangat kasih sayang yang cuma ada antara ibu-anak.
“Yang terpikir setiap kali saya memeluk ayah dan ibu setelah turnamen adalah: saya sudah memenuhi keinginanku. Berbagi dengan mereka adalah sesuatu yang istimewa.”
Cara Tiger, bagi banyak orang dianggap unik. Kadang prestasi dan kemampuan Tiger membuat orang lupa, betapa ia sesungguhnya masih amat muda.
Demikian dekatnya ia dengan ibu. Bahkan kaus merah dipakai karena anjuran ibunya, yang percaya perbintangan. Maka ia pun tampak memakai kaus merah saat menjadi orang hitam pertama yang memenangkan Masters Golf Tournament yang prestisius tahun 1997.
Tida yakin warna merah adalah warna keberuntungan, warna paling kuat untuk anaknya.
Tiger pun berkeyakinan serupa. Jadi jangan kaget bila ia selalu mengenakan kaus merah di hari Minggu.
Jadi akuntan
Bagusnya Tiger tidak begitu saja meraup jasa kemenangan itu sebagai melulu berkat kerja kerasnya. Selain peran orang tuanya, ia tidak menutup mata terhadap bantuan coach dan caddie-nya, yakni Butch Harmon dan Mike “Fluffy” Cowan.
Khusus dengan Fluf, Tiger mengakui, “Hubungan kami lebih seperti kawan akrab yang sedang bermain bersama.”
Tanpa banyak bicara, Fluff sudah tahu tongkat mana yang dibutuhkan Tiger. Baginya tuntutan terhadap seorang caddie tidaklah enteng.
“Saya harus tahu kondisi lapangan, arah angin, dan sasaran. Peletakan pin secara tepat di kontur lapangan golf. Juga memonitor semua elemen manusia,” tutur Fluff yang berpengalaman menjadi caddie beberapa pe-golf dunia.
Kedekatan hubungan mereka ditunjukkan dengan, “Melawannya, bila saya kurang yakin dengan pilihan Tiger, saya tidak sungkan melawannya,” aku Fluff. Selanjutnya, Tiger pun tidak keberatan dengan nasihatnya.
Ini dibenarkan Tiger, “Mike tidak takut menyuarakan opininya. Ada orang-orang yang Yes-men belaka. Mereka hanya mau mengatakan apa yang diinginkan sang pemain. Mike tidak begitu. Tidak banyak caddie yang seperti itu. Itu sebabnya pula saya salut dan hormat padanya.”
Tak hanya terhadap timnya, di kalangan pe-golf Tiger dikenal berjiwa besar. Ia tidak sungkan mengacungkan jempol bila ada peserta yang melakukan ayunan bagus.
Jiwa besar itu yang membuatnya merasa “berutang” terhadap diri sendiri serta orang tuanya, karena harus keluar lepas dari Stanford. Padahal ia menyukai dunia college. “Stanford seperti utopia. Bukan dunia nyata, itu sebabnya aku ingin menghabiskan lebih banyak waktu di sini.”
Untuk itu, konon kini ia sedang menjajaki kemungkinan program belajar on-line dari University of California. Rasanya dengan sistem belajar seperti itu mungkin saja bagi Tiger untuk menyelesaikan sekolah formal, karena ia dikenal sebagai pelajar dengan nilai “A” untuk mata pelajaran favoritnya, matematika. Bahkan, ia pernah mengaku, kalau tidak menjadi pe-golf, ia akan menjadi akuntan.
“Pahlawan” minoritas
Kini di lingkungan tempat tinggalnya di Isleworth, Florida, ia aktif mempromosikan golf. Maka pria pengoleksi koin, pencinta musik dan latihan angkat beban untuk meningkatkan kekuatan ayunan itu mendirikan yayasan dengan namanya.
Apalagi ada yang memandangnya sebagai sumber inspirasi bagi kaum muda minoritas di AS, keturunan Afrika-Amerika dan Asia. “Aku ingin membantu lebih banyak kaum minoritas untuk lebih muncul dalam permainan ini. Mungkin itu yang bisa kulakukan, yang berdampak jauh.”
Seperti Michael Jordan, Tiger bukan hanya mendominasi golf, tapi juga mengubah cara memainkannya – cara yang akan ditiru generasi berikutnya.
“Sekarang siapa saja bisa bermain golf,” tutur Tiger, meski hal itu barangkali belum tepat benar, kalau mengingat kondisi di Indonesia. Ia berharap, yayasannya akan berhasil menyediakan pendidikan dan perlengkapan bagi anak kurang mampu, dan golf bisa menampung “atlet alamiah berbakat”, termasuk mereka yang bertubuh besar dan kuat dari kalangan kulit hitam, hispanik, dan Asia.
“Bayangkan jika Michael Jordan dengan ukuran besar dan kekuatan tubuh serta koordinasi mata yang hebat itu bermain golf sejak dini?” tanyanya.
Di AS, memang masih terasa adanya “diskriminasi” di bidang olah raga, dalam arti ada permainan tertentu yang hanya bisa dimainkan oleh kelompok tertentu. Itu dirasakan ayahnya, juga dialami oleh Tiger. Meski soal diskriminasi sesungguhnya dirasakan Tiger sejak awal kehidupannya. Misalkan, di hari pertama masuk TK, pelajar kulit putih mengikatnya di pohon dan “menghajarnya”.
Pria yang punya hobi bersepeda menyusuri pantai, basket, dan memancing itu bahkan pernah mendapat ancaman pembunuhan menjelang tampil di sebuah turnamen. Yang lucu, di semester pertama di Stanford, Tiger memenangkan turnamen di country club, yang baru beberapa saat sebelumnya tidak mengizinkan keturunan kulit hitam menjadi anggota.
Rasialisme, jelas bagi Tiger bukanlah hal yang menguntungkan. Kebenaran yang ia anut adalah setiap orang harus membangun identitas bukan berdasarkan ras yang dibawa sejak lahir, melainkan pada perannya sebagai manusia.
Di mata Michael Jordan, pemain profesional bola basket yang juga mengidolakan Tiger, “Saya kagum atas semua yang telah ia lakukan, karena selama ini sekian lama kaum minoritas tidak bisa memainkannya – artinya untuk bisa berhasil bebannya lebih berat, karena harus mengatasi pula hambatan rasialisme.”
Lalu mengapa Tiger menolak disebut kulit hitam?
“Saya adalah Caublinasian,” seperti yang dikatakannya pada pewawancara berkulit gelap juga, Oprah Winfrey. “Artinya adalah Caucasian-black-indian-asian.”
Memang itulah yang sebenarnya. Tiger berayah Earl Woods yang memiliki darah setengah hitam, seperempat Indian Amerika, dan seperempat putih. Ibunya, Kultida, orang Thailand – tepatnya setengah Thailand – setengah Cina.
Maka apa pun gelar yang disabetnya, Player of the Year tahun 1990 versi Golf Digest, Sportsman of the Year tahun 1996 versi Sports Illustrated, Player of the Year versi PGA Tour di awal Desember 1999, Male Athlete of The Year versi Associated Press tahun …, patut dihargai.
“Ia bukan saja berusaha menjadi baik, tapi sudah sekian lama menjadi yang terbaik,” komentar pe-golf profesional Davis Lowe III sambil menambahkan bahwa Tiger sudah sering membuat rekor baru, dan belum menunjukkan tanda akan menghentikan prestasinya.
Pendapat itu didukung oleh Harmon yang menjadi coach sejak Tiger berusia 17 tahun,
“Ia baru menggunakan 75 persen dari kemampuannya. Sisanya, adalah bagian yang paling ‘menakutkan’.”
Kini dunia telah mengenal pe-golf muda yang sering dinilai, “Cuma anak-anak di antara orang tua, namun mengajari para orang tua sesuatu.”
Hampir seperempat abad usianya, namanya bahkan diposisikan lebih tinggi ketimbang dua raksasa basket Michael Jordan dan Shaq O’ Neal.
Malah kemenangan di turnamen Masters telah mengangkat namanya sedemikian rupa sehingga tak seorang atlet, bahkan Muhammad Ali, bisa menyamainya.
Daya tariknya di dunia padang golf memang bukan main-main. Orang yang tak tahu apa-apa tentang golf, yang tak peduli tentang olahraga, pun sampai menyempatkan diri menonton saat Tiger berlaga. Bulan silam, 28 juta warga Amerika, meningkat 32% dari tahun sebelumnya, menonton Tiger dalam British Open.
Anak-anak yang dulu berangan-angan, “Ingin menjadi Mike!” berubah haluan, “Ingin Jadi Tiger!”
Tiger mengaku jujur, seperti ajaran Earl untuk selalu menjawab setiap pertanyaan dengan jujur, “Selama roda kehidupan masih berjalan, semua keinginanku mungkin saja terjadi. Yang pasti, aku tak ingin hanya menjadi pe-golf berkulit hitam terbaik, tetapi pe-golf terbaik, di suatu masa.” (Dari pelbagai sumber/Sht)

2. Ghony - 4 Maret 2012

Waduh..panjang nian postingannya..

takut dulu sama teksnya.
T.T
10.000 jam untuk membaca
“-_-

3. cakfarrih - 23 Mei 2012

Makasih banyak gaaaaaan…artikelnya semakin nambah semangat buat latihan dan nambah jam…….like this

4. cakfarrih - 23 Mei 2012

Oya…ijin share gan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: